Kamis, 26 Januari 2012

Kajian Sastra Bandingan Tugas Akhir


Tinjauan Struktural Terhadap Puisi Kepada Peminta-Minta Karya Chairil Anwar dan Puisi Gadis Peminta-Minta Karya Toto S. Bachtiar
(Sebuah Kajian Sastra Bandingan)
I.          Pendahuluan
1.1       Latar Belakang
            Dewasa ini, era globalisasi telah merambah ke berbagai belahan dunia. Makin maraknya barang-barang luar negeri yang berdatangan ke Indonesia menjadi suatu hal yang tak asing lagi. Mulai dari produk Cina hingga produk yang berasal dari negeri Paman Sam itu. Namun, hal ini sepertinya tidak menjadi masalah terhadap karya-karya sastra di Indonesia sendiri.
            Mengapa demikian? Hal ini karena karya-karya sastra di Indonesia memiliki tempat sendiri dihati para penggemarnya. Ya, itulah keunggulan orang-orang Indonesia yang gemar membaca. Apalagi kalau karya sastra itu berupa puisi, pasti sudah tak asing lagi di mata orang-orang Indonesia.

            Puisi-puisi karya orang-orang Indonesia. Bisa terbilang banyak sekali bahkan ada pula puisi yang tidak dicantumkan identitasnya atau yang biasa disebut dengan puisi anonim. Puisi-puisi itu menjadi cikal bakal akan lahirnya puisi-puisi lagi pada setiap generasi yang berbeda.
            Ada dua puisi yang mengandung unsur kemiskinan dan penderitaan yang dialami oleh rakyat di Indonesia. Puisi-puisi itu yakni puisi Kepada Peminta-minta karya Chairil Anwar dan Puisi Gadis Peminta-peminta karya Toto S. Bachtiar. Sekilas dapat kita lihat adanya persamaan pada kedua puisi itu yakni adanya kata Peminta-minta. Namun, belum tentu hanya karena melihat judulnya sama maka isinya sama pula atau memang benar isinya serupa.
            Oleh karena itu, melalui makalah ini penulis ingin mengkaji lebih dalam mengenai isi yang terkandung dalam kedua puisi itu. Penulis menggunakan tinjuan struktural guna mengupas lebih dalam isi yang terdapat dalam kedua puisi itu untuk mendapatkan perbandingan di antara keduanya.

1.2       Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka penulis merumuskan sebuah rumusan masalah yakni “Bagaimana diksi, citraan, bahasa kias, sarana retorika, bait dan baris, nilai bunyi, persajakan, narasi, emosi, dan ide dalam puisi Kepada Peminta-minta karya Chairil Anwar dan puisi Gadis Peminta-minta karya Toto S. Bachtiar?”
1.3       Tujuan Penulisan
Tujuan penulis membandingkan puisi Kepada Peminta-minta karya Chairil Anwar dan puisi Gadis Peminta-minta karya Toto S. Bachtiar adalah:
µ  Untuk mengetahui pemanfaatan unsur-unsur pembangun seperti: diksi, citraan, bahasa kias, bait dan baris, nilai bunyi, persajakan, narasi, emosi, dan ide dalam puisi Kepada Peminta-minta karya Chairil Anwar dan puisi Gadis Peminta-minta karya Toto S. Bachtiar.
µ  Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat membantu penikmat dalam memahami puisi Kepada Peminta-minta karya Chairil Anwar dan puisi Gadis Peminta-minta karya Toto S. Bachtiar, serta dapat membantu penikmat dalam memilih karya sastra yang bernilai tinggi.
µ  Sebagai salah satu tugas akhir mata kuliah kajian sastra bandingan untuk syarat dapat mengikuti UAS.









II.        Landasan Teori
2.1.      Hakikat Puisi
            Sebuah karya sastra merupakan sebuah karya otonom mandiri yang terstruktur[1]. Karena terstruktur, maka karya sastra tersebut dibangun oleh unsur-unsurnya berupa tema, latar belakang, tokoh, plot, dll.  Semua unsur-unsur itu saling berhubungan dan menjadikan karya sastra itu menjadi karya sastra yang utuh.
Struktur fisik puisi adalah medium untuk mengungkapkan makna yang hendak disampaikan penyair. I.A. Richards menyebutkan makna atau struktur batin itu dengan istilah hakikat puisi (1976:180-181). Ada empat unsur hakikat puisi, yakni: tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention). Keempat unsur itu menyatu dalam wujud penyampaian bahasa penyair.
a)      Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya.
b)        Perasaan
Dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Untuk mengungkapkan tema yang sama, penyair yang satu dengan perasaan yang berbeda dari penyair lainnya.
c)        Nada
Nada puisi adalah sikap penyair kepada pembaca. Jika nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, maka suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca.

d)       Amanat
Amanat yang hendak disampaikan oleh penyair dapat ditelaah setelah memahami tema, rasa, dan nada puisi itu. Tujuan atau amanat merupakan yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya.






















III        Pembahasan
3.1       Puisi Utuh

Kepada Peminta-Minta” Karya Chairil Anwar

Baiklah, baiklah, aku akan menghadap dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang aku lagi
Nanti darahku menjadi beku
Jangan lagi kamu bercerita
Telah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil berjalan kau usap jua
Bersuara tiap kau melangkah
Mengerang tiap kau memangdang
Menentas dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam tidurku
Menghempas diri di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik aku akan menghadap dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang aku lagi
Nanti darahku jadi beku
“Gadis Peminta-Minta” Karya Toto S. Bachtiar

Setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda







3.2       Pembahasan
Metode pembahasan yang dipergunakan adalah metode analisis, yaitu cara-cara mengkaji atau menganalisis unsur struktural puisi Kepada Peminta-minta karya Chairil Anwar dan puisi Gadis Peminta-minta karya Toto S. Bachtiar yang dijadikan objek pembahasan untuk mengetahui diksi, citraan, bahasa kias, sarana retorika, bait dan baris, nilai budaya, persajakan, emosi, ide, serta pengalaman jiwa yang dipergunakan oleh pengarangnya. Langkah-langkah yang akan ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: pertama menemukan persamaan di antara kedua puisi itu, kedua membandingkan bahasa puisi seperti: diksi, citraan, kiasan; ketiga membandingkan bentuk puisi: bait dan baris, nilai bunyi, persajakan; keempat membandingkan isi puisi: narasi, emosi, dan ide

3.2.1    Persamaan Kedua Puisi
            Membandingkan dua puisi perlulah mengetahui terlebih dahulu persamaan apa saja yang terdapat dalam ke dua puisi ini. Persamaan itu berasal dari tema yang diangkat yakni kedua puisi ini sama-sama membahas mengenai sebuah kemiskinan yang melanda para peminta-minta. Peminta-minta yang selalu menderita ketika meminta-minta. Selain itu, kehidupan yang digambarkan dalam puisi ini sama yakni kehidupan yang penuh duka dan jauh dari gemerlap dunia.
            Selain itu, pemakaian akulirik yang sama. Hal ini karena sama-sama memandang antara akulirik dengan objeknya (peminta-minta).

3.2.2    Perbandingkan Bahasa Puisi
            Perbandingan bahasa puisi yang terdapat dalam kedua puisi akan dikaji dengan tiga hal yakni diksi, citraan dan kiasan. Berikut ini adalah pembahasan mengenai perbandingan bahasa puisi pada kedua puisi tersebut:
a)      Diksi
Persoalan pemilihan kata merupakan masalah yang sungguh-sungguh esensial untuk melukiskan dengan sejelas-jelasnya wujud dan perincian materi. Diksi sendiri berarti pemilihan kata, yaitu pemilihan kata yang digunakan penyair untuk mencari kata yang tepat dan sesuai dengan bentuk puisi dan tema yang dikandungnya, sehingga menghasilkan jiwa penyair secara tepat, setidak-tidaknya mendekati kebenaran.
Kata-kata yang dipergunakan dunia persajakan di samping memiliki arti denotatif dapat pula memiliki arti konotatif. Berikut perbandingan pemakaian kata-kata konotatif dalam kedua puisi tersebut:

Bait
Kepada Peminta-minta
Gadis Peminta-minta
1
Menyerahkan diri dan segala dosa
(baris 2)
Senyumnya terlalu kekal untuk kenal duka
(baris 2)
Nanti darahku menjadi beku
(baris 4)
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
(baris 3)
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
(baris 4)
2
Nanah meleleh dari muka
(baris 1)
Gembira dari kemayaan riang
(baris 4)
3
Mengerang tiap kau memandang
(baris 2)
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
(baris 1)
Jiwa begitu murni, terlalu murni
(baris 3)
4
Menghempas diri di bumi keras
(baris 2)
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
(baris 2)
Hidupnya tak lagi punya tanda
(baris 4)
5
Menyerahkan diri dan segala dosa
(baris 2)

Nanti darahku menjadi beku
(baris 4)


Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa pemakaian diksi cenderung lebih ditonjolkan dalam puisi Gadis Peminta-minta. Tak seperti Chairil Anwar yang lebih banyak menggunakan kata-kata denotatif dalam penulisan puisinya.
b)      Citraan
Citraan atau imagi (imageri) adalah gambaran angan yang timbul setelah seseorang membaca karya sastra dalam hal ini puisi. Imageri dapat kita pakai sebagai hal untuk memperkuat serta memperjelas daya bayang pikiran manusia dan nantinya akan menjelmakan gambaran nyata.
Citraan yang terdapat dalam kedua puisi ini meliputi citraan penglihatan, citraan pendengaran, dan citraan gerak. Berikut ini perbandingan citraan yang terdapat pada kedua puisi tersebut:
Citraan
Kepada Peminta-minta
Gadis Peminta-minta
Penglihatan
Nanti darahku jadi beku
(bait 1 & 5, baris 4)
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
(bait 1, baris 2)
Telah tercacar semua di muka
(bait 2, baris 2 )
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
(bait 1, baris 3)
Nanah meleleh dari muka
(bait 2, baris 3)
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
(bait 2, baris 2)
Sembarang kau merebah
(bait 3, baris 4)
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
(bait 3, baris 1)
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
(bait 4, baris 2)
Pendengaran
Bersuara tiap kau memandang
(bait 3, baris 1)

Mengaum di telingaku
(bait 4, baris 4)
Gerak
Sambil berjalan kau usap jua
(bait 2, baris 4)
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
(bait 3, baris 2)

Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat perbandingan citraan yang terdapat dalam kedua puisi tersebut. Puisi Kepada Peminta-minta memiliki citraan pendengaran, sedangkan puisi Gadis peminta-minta tidak memiliki citraan pendengan di dalamnya.
c)      Bahasa Kias
Bahasa kias atau gaya bahasa adalah suatu alat untuk melukiskan, menggambarkan, menegaskan inspirasi atau ide dalam bentuk bahasa dengan gaya yang mempesona (Jalil, 1985: 31). Gaya bahasa yang terdapat dalam puisi ini adalah hiperbola. Berikut ini perbandingan gaya bahasa hiperbola yang terdapat dalam puisi tersebut:
Gaya Bahasa
Kepada Peminta-minta
Gadis Peminta-minta
Hiperbola
Nanti darahku jadi beku
(bait 1 & 5, baris 4)
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
(bait 1, baris 2)
Nanah meleleh dari muka
(bait 2, baris 3)
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
(bait 3, baris 1)
Menghempas diri di bumi keras
(bait 4, baris 2)

Mengaum di telingaku
(bait 4 baris 4)


Dari tabel di atas, dapat kita lihat perbandingan gaya bahasa hiperbola yang digunakan. Puisi Kepada Peminta-minta cenderung menggunakan gaya bahasa hiperbola, sedangkan puisi Gadis Peminta-minta lebih sedikit pemakaian gaya bahasa hiperbola.

3.2.3    Perbandingan Bentuk Puisi
            Perbandingan bentuk puisi yang terdapat dalam kedua puisi akan dikaji dengan tiga hal yakni bait dan baris, nilai bunyi, persajakan. Berikut ini adalah pembahasan mengenai perbandingan bahasa puisi pada kedua puisi tersebut:
a)      Bait dan baris
Puisi-puisi pada masa sekarang ini mempunyai bentuk bait dan baris yang berbeda-beda. Adapun bait dan baris yang terdapat dalam puisi tersebut nampak sebagai berikut:
No
Bentuk Puisi
Kepada Peminta-minta
Gadis Peminta-minta
1
Bait
Terdapat 5 bait
Terdapat 4 bait
2
Baris
Tiap bait terdiri dari 4 baris
Tiap bait terdiri dari 4 baris
Dapat terlihat melalui tabel di atas bahwa puisi Kepada Peminta-minta memiliki jumlah bait yang lebih banyak daripada puisi Gadis Peminta-minta.
b)      Nilai bunyi
Nilai bunyi erat hubungannya dengan ritme dan rima. Tarigan (1985: 37-38), membagi nilai bunyi menjadi dua macam yakni euphony dan cacophony. Euphony adalah perulangan bunyi atau rima yang cerah, ringan, yang menunjukkan kegembiraan serta keceriaan dalam dunia puisi. Biasanya bunyi-bunyi i, e, dan a merupakan bunyi keceriaan. Cacophony adalah perulangan bunyi-bunyi yang berat menekan, menyeramkan, mengerikan seolah-olah seperti suara desau atau suara burung hantu. Biasanya bunyi-bunyi seperti ini diwakili oleh vokal-vokal o, u, e, atau diftong au.
            Nilai bunyi memang mempengaruhi dalam pembentukan ritme dan rima dalam kedua puisi tersebut. Adapun nilai bunyi yang terdapat dalam kedua puisi tersebut nampak sebagai berikut:
Nilai Bunyi
Kepada Peminta-minta
Gadis Peminta-minta
Bait 1
Cacophony
Euphony
Bait 2
Euphony
Euphony
Bait 3
Euphony
Euphony
Bait 4
Cacophony
Euphony
Bait 5
Cacophony
-
Berdasarkan tabel di atas, nilai bunyi yang dominan pada puisi Kepada Peminta-minta yakni nilai bunyi cacophony yang menandakan keadaan yang mencekam dan mengerikan. Pada puisi Gadis Peminta-minta didominasi oleh nilai bunyi euphony yang menandakan kegembiraan atau keceriaan.
c)      Persajakan
Persajakan ada dua macam, yaitu persajakan berdasarkan tempat dan persajakan susunan. Berdasarkan tempat masih dibagi lagi, yaitu persajakan awal dan persajakan akhir. Persajakan awal, yaitu apabila perulangan bunyi terdapat pada tiap-tiap awal perkataan. Persajakan akhir apabila perulangan itu dijumpai pada akhir setiap kata dalam satu baris. Berdasarkan susunannya persajakan masih dibagi lagi, yaitu persajakan berangkai, berulang dan berpeluk. Persajakan berangkai apabila persamaan bunyi aa, bb, cc dan seterusnya. Persajakan berulang apabila persamaan bunyinya abac, cdce. Persajakan berpeluk apabila persamaan bunyinya abba, cddc (Tarigan, 1985: 35-36).
Puisi Kepada Peminta-minta ini mempunyai persajakan bebas, karena tidak dibatasi oleh kesemua hal yang telah kami kemukakan. Sama halnya dengan Puisi Gadis Peminta-minta, puisi ini juga sama berbeda dengan aturan persajakan yang telah dikemukakan.

3.2.4    Perbandingan Isi Puisi
            Perbandingan isi puisi yang terdapat dalam kedua puisi akan dikaji dengan tiga hal yakni narasi, emosi, dan ide. Berikut ini adalah pembahasan mengenai perbandingan bahasa puisi pada kedua puisi tersebut:
Isi Puisi
Kepada Peminta-minta
Gadis Peminta-minta
Narasi
Puisi ini menceritakan tentang seseorang yang merasa kasihan terhadap peminta-minta. Merasakan empati saat melihat peminta-minta itu selalu mengemis dengan wajah dan suara yang membuat orang merasa kasihan bila melihat itu.
Puisi ini menceritakan seseorang yang merasa empati terhadap gadis kecil yang meminta-minta dengan sebuah kaleng kecil. Seseorang itu ingin merasakan kegembiraan yang dirasakan oleh gadis kecil itu. Namun, orang-orang dalam kota itu telah mati rasa terhadap keberadaan peminta-minta.
Emosi
Emosi yang dirasakan oleh penyair dalam puisi ini adalah rasa kasihan ketika melihat peminta-peminta. Hal ini diungkapkan penyair berikut ini:
Baik, baiklah, aku akan menghadap dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Dapat dilihat bahwa penyair begitu empati kepada peminta-minta seraya ingin merasakan pula hal yang dirasakan oleh peminta-minta tersebut
Emosi yang dirasakan oleh penyair dalam puisi ini adalah rasa kasihan ketika melihat peminta-peminta itu seorang gadis kecil. Hal ini diungkapkan penyair berikut ini:
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Dapat dilihat bahwa sang penyair merasa empati dan ingin merasakan pula apa yang dirasakan oleh gadis kecil itu
Ide
Ide yang dikemukakan dalam puisi ini yakni tentang peminta-minta yang setiap hari harus merengek minta sedekah kepada orang-orang. Selain itu, berisi juga nilai-nilai sosial mengenai orang-orang yang mengemis hanya untuk tetap hidup.
Ide yang dikemukakan dalam puisi ini yakni tentang peminta-peminta itu seorang gadis kecil yang hidup di bawah jembatan dan tetap tersenyum walaupun hidup yang dialaminya sangat sulit. Selain itu, nilai sosialnya berupa kebijaksanaan sebuah kota yang tak lagi memikirkan nasib anak-anak kecil yang meminta-minta agar tetap bertahan hidup.

IV.       Penutup
4.1       Kesimpulan
            Dari kedua puisi ini yakni Puisi Kepada Peminta-minta dan puisi Gadis Peminta-minta memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan dan perbedaan itu untuk menemukan sebuah kualitas karya sastra yang baik.
Persamaan dalam kedua puisi ini yaitu tema yang diangkat oleh kedua puisi ini sama-sama membahas mengenai sebuah kemiskinan yang melanda para peminta-minta. Peminta-minta yang selalu menderita ketika meminta-minta. Selain itu, kehidupan yang digambarkan dalam puisi ini sama yakni kehidupan yang penuh duka dan jauh dari gemerlap dunia. Selain itu, pemakaian akulirik yang sama. Hal ini karena sama-sama memandang antara akulirik dengan objeknya (peminta-minta).
Perbedaannya dapat dilihat melalui tiga pokok pembahasan yaitu melalui bahasa puisi, bentuk puisi, dan isi puisi. Ketika pokok pembahasan ini memiliki persamaan juga di dalamnya. Namun lebih dominan perbedaan yang terkandung di dalam kedua puisi ini.
Melalui bahasa puisi, terdiri tiga pembahasan yaitu diksi, citraan, dan kiasan. Pemakaian diksi cenderung lebih ditonjolkan dalam puisi Gadis Peminta-minta. Tak seperti Chairil Anwar yang lebih banyak menggunakan kata-kata denotatif dalam penulisan puisinya. Pemakaian citraan pada puisi Kepada Peminta-minta memiliki citraan pendengaran, sedangkan puisi Gadis peminta-minta tidak memiliki citraan pendengan di dalamnya. Pemakaian gaya bahasa pada Puisi Kepada Peminta-minta cenderung menggunakan gaya bahasa hiperbola, sedangkan puisi Gadis Peminta-minta lebih sedikit pemakaian gaya bahasa hiperbola.
Melalui bentuk puisi, terdiri dari tiga pembahasan yaitu bait dan baris, nilai bunyi, persajakan. Puisi Kepada Peminta-minta memiliki jumlah bait yang lebih banyak daripada puisi Gadis Peminta-minta. Nilai bunyi yang dominan pada puisi Kepada Peminta-minta yakni nilai bunyi cacophony, sedangkan pada puisi Gadis Peminta-minta didominasi oleh nilai bunyi euphony. Puisi Kepada Peminta-minta dan puisi Gadis Peminta-minta ini sama-sama mempunyai persajakan bebas, karena tidak dibatasi oleh kesemua hal yang telah kami kemukakan.
Melalui isi puisi, terdiri dari tiga pembahasan yaitu narasi, emosi, dan ide. Narasi pada puisi Kepada Peminta-minta menceritakan tentang seseorang yang merasa kasihan terhadap peminta-minta. Narasi pada puisi Gadis Peminta-minta menceritakan seseorang yang merasa empati terhadap gadis kecil yang meminta-minta dengan sebuah kaleng kecil. Emosi yang ditunjukkan pada kedua puisi ini sama-sama menunjukkan rasa kasihan dan empati terhadap peminta-minta. Ide pada puisi Kepada Peminta-minta yakni tentang peminta-minta yang setiap hari harus merengek minta sedekah kepada orang-orang. Ide pada puisi Gadis Peminta-minta yakni peminta-peminta itu seorang gadis kecil yang hidup di bawah jembatan dan tetap tersenyum walaupun hidup yang dialaminya sangat sulit.


.









Daftar Pustaka
Dharma, Budi. 1984. Moral Dalam Sastra,(Dalam Andy Zoelton, ed.). Budaya Sastra. Jakarta: C.V. Rajawali.
Faruk. 2003. Pengantar Sosiologi Sastra. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Guntur, Tarigan Henry. 1985. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: PN. Angkasa.
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Waluyo, Herman. 1991. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Zulfahnur. 2006. Sastra Bandingan. Jakarta: UNJ
Zulfahnur dan Sayuti Kurnia. 1996. Sastra Bandingan. Jakarta: Depdikbud


[1] Zulfahnur, Sastra Bandingan (Jakarta: 2006, UNJ), hal 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar